Blog

3

Oct

2019

GUSTI ARIRANG: PENAMPILAN FISIK DAN KEBERANIAN BERSUARA / APPEARANCE AND FEARLESSNESS TO SPEAK UP

Posted by Pita Ratna Sari
GUSTI ARIRANG: PENAMPILAN FISIK DAN KEBERANIAN BERSUARA / APPEARANCE AND FEARLESSNESS TO SPEAK UP image

Maraknya kampanye self-love dan beauty in diversity nyatanya masih belum cukup kuat meyakinkan khalayak untuk menerima diri masing-masing dengan begitu saja. Rambut lurus panjang, kulit putih-halus, serta badan kurus tinggi yang kerap ditampilkan berbagai media, rupanya masih menjadi resolusi fisik bagi sebagian besar masyarakat.

Sebagai seorang musisi yang kerap kali melakukan performa di atas panggung, Gusti Arirang memilih untuk memangkas habis bagian tubuh yang selama ini masih dianggap sebagai kuncian aura fisik, khususnya kaum perempuan. Berdasarkan sikap ini, Gusti kemudian membagikan sudut pandangnya tentang arti kecantikan di luar sekedar penampilan fisik. Terlebih dari persoalan penampilan fisik, ia juga berbincang tentang musik dan keberanian bersuara bagi kaum-kaum marjinal di negeri ini. 


(The rise of self-love and beauty in diversity campaigns in fact is not strong enough to convince people to love themselves as they are. Long straight hair, smooth-fair skin, and tall-thin bodies that are often displayed by various media seems like an absolute physical resolution for public. As a musician who do a lot of performs on stage, Gusti Arirang chose to cut her hair bald, which is still considered as a physical aura, especially for women. Based on this brave act, Gusti shares her perspective on the meaning of beauty beyond the physical appearance that is usually worshiped by humans. Gusti also talked about music and her courage to speak up for the marginalized tier in this country).

Oleh: Pita Ratna Sari
_____________________

Halo Gusti, bisa ceritakan sedikit tentang diri anda? (Helo Gusti, please introduce yourself)

Nama saya Gusti Arirang, sekarang saya aktif bermain musik bersama teman-teman di Tashoora. Ini sudah tahun ketiga kami berproses dan buat saya pribadi, Tashoora menjadi titik di mana saya yakin hidup saya adalah untuk bermusik. Saya lahir di Yogyakarta, 8 Mei 1993. Dulu saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya masuk tahun 2011 dan lulus tahun 2017. Betul, lulusnya lama. Tapi banyak hal seru yang terjadi selama 6 tahun saya berada di kampus, jadi jumlah tahun yang saya dihabiskan tidak jadi soal.

My name is Gusti Arirang. I am a musician, I have a band called Tashoora and it’s our 3rd years since we started the band. For me personally, Tashoora is the point where I realize that I will live for music, to become a musician. I was born in Yogyakarta, May 8th 1993. I studied Communication in Universitas Gadjah Mada, enrolled as Class of 2011. I graduated pretty late in 2017, but lots of fun things happened during those 6 years.  I never thought I was wasting my time, I enjoy every minutes of it.


Mengapa anda bermusik? (Why do you choose music?)

Pada dasarnya saya tumbuh besar di lingkungan musik, bapak saya musisi, ibu saya nyanyi, jadi musik sesungguhnya bukan hal baru. Saya hanya memilih melanjutkan perjalanan ke rute yang tidak banyak diambil oleh teman-teman sekolah saya. Kenapa yang dipilih musik, ya karena ini nafas saya dari kecil.

Basically, I grew up in an environment where music is not an uncommon thing, my Father is a musician, my Mother is a singer, so music is not a new thing for me. The route where lots of my friends reluctant to choose. Why did I chose music? Because it’s the air that I breath since I was a kid.


Bagaimana kehidupan mempengaruhi anda sebagai musisi? (In what way has your life influenced you as a musician?)

Pengaruhnya besar sekali. Lingkungan keluarga, khususnya bapak saya, menjadi pengaruh yang kuat sekali dalam cara saya menghidupi musik itu sendiri. Lingkungan keluarga besar kakek mempengaruhi cara pandang saya terhadap musik sebagai sebuah bentuk kesenian. Sementara kota asal saya – Yogyakarta – tidak pernah kehabisan cerita untuk saya tuangkan ke dalam lirik. Dan mungkin cara hidup di sini juga mempengaruhi cara saya bertutur lewat lirik.

My life is my biggest influence. My Father has always been the major influencer, he teaches me how music can live my life. My Grandfather from my Father’s side, Bagong Kussudiardja, develop my point of view on music as a form of art. Meanwhile, the city where I grew up and live in, Yogyakarta, always have its own stories to be poured in lyrics. The way people live here influenced me in writing lyrics.


Musik anda banyak bercerita tentang isu-isu sosial, mengapa demikian? (Your music mostly talking about social issues, why did you choose to voice the issue?)

Karena isu-isu tersebut layak dibicarakan – diceritakan. Banyak dari kita yang enggan bicara tentang LGBTQIA, entah karena menganggap LGBTQIA itu tabu atau takut. Padahal ini kan di depan mata. Many people are pretending – jadi orang yang diterima masyarakat kebanyakan. Memerdekakan diri sendiri adalah omong kosong. Buat kami di Tashoora, ini perlu disuarakan.

Those are the stories which deserves to be talked about. A lot of us refuse to talk about LGBTQIA, it’s either considered taboo or people are just too afraid to talk about that. It is in front of our eyes! People are pretending to be someone who is accepted by the society. To free ourselves is bullshit. For us, Tashoora, those kind of issues need to be voiced.





Darimana keberanian itu datang? (Where does the bravery comes from?)

Justru ketika kami diam, rasanya tidak tenang. Seperti pura-pura buta. Memang kami harus bersuara.

Actually, if we (Tashoora) stay still in silent, we felt anxious. It’s like we’re pretending to be blind. We need to voice ourselves!


Apakah anda tidak takut terhadap kekuatan yang lebih besar ketika menyanyikan lagu-lagu yang mengangkat isu-isu sosial tersebut? (Do you afraid of some bigger powers, like government and other organization?)

Tidak. Kami harap mereka juga mendengarkan Tashoora.

Not at all. We hope they listen.


Siapa role model anda? (Who is your role model?)

Bapak (Djaduk Ferianto).

My father (Djaduk Ferianto).


Apa yang membuat anda memutuskan untuk memangkas habis rambut? (What is behind the decision of going bald?)

Tiap kali saya ditanya seperti ini, jawaban singkat saya selalu “Karena saya bisa”. Lebih dari itu, saya ingin belajar lebih banyak tentang diri sendiri. Dulu, rambut adalah bagian dari tubuh saya yang menyita banyak perhatian. Turned out ternyata saya yang tidak pernah percaya diri dengan rambut saya. Saya pikir, habisi saja. Dan betul, saya lebih perhatian ke bagian tubuh yang lain, lebih banyak eksperimen. Itu bikin saya senang dan malah percaya diri​.

Every time I was asked this kind of question, my answer is always “Because I can”. More than that, I want to learn about myself. Back then, my hair is part of my body, the center of attention for lots of people. Turned out, my hair is the source of my insecurity. Rather than worrying, I thought it would be better if I shave it off. And it was the right decision, rather than worrying, I can direct my attention towards another part. I also became more experimental. It brings me happiness, joy, and confidence.


Apa komentar orang-orang di sekitar anda ketika melihat penampilan anda yang sekarang? (Any opinion from people around you seeing your actual looking?)

Kaget pasti, kecewa mungkin. Ada beberapa yang tiba-tiba jadi beauty guru – katanya kalo perempuan botak berarti dandannya harus begini begini begini. Saya masa bodoh.

Surprise? of course! Disappointed? Maybe. Few of them suddenly turn into beauty guru(s) – teaching me on how to dress and maintain my self as a bald woman. I don’t even care.


Apakah penampilan botak anda ini sebagai metode self-branding? (Do you think shaving your head bald is part of self branding?)

Tidak juga. Karena awalnya saya memang ingin saja. Tapi seiring berjalannya waktu saya sadar orang-orang lebih mudah mengidentifikasi saya yang mana. Di satu sisi saya mudah dikenali, di sisi yang lain jadi tidak bisa sembunyi hahaha.  Daripada self-branding, saya lebih ingin menjadi billboard berjalan yang bilang ke banyak orang bahwa yang paling menyenangkan adalah menjalani hidup dengan cara yang kamu inginkan tanpa dibatasi penilaian kiri kanan​.

Not really, simply because I want to be bald, no motives or whatsoever behind that. As times goes by, I realize that people found me easier to be identified because I am bald. On one side, I am easily recognized, on the other side, it will be harder for me to hide from people hahaha. Rather than self-branding, it’s more like living my life as a walking billboard, saying that it’s so much fun to live life the way you like without giving your two-cents on social judgment.


Ketika mendengar kalimat-kalimat yang mengandung unsur banding-membanding dengan penampilan anda sebelumnya, apa yang anda rasakan? (How do you feel when someone said “Long hair suits you better”?)

Senang-senang saja karena artinya mereka perhatian sama saya. Tapi komentar-komentar seperti itu tidak kemudian mengubah pilihan saya sekarang.

I am happy with that, it means that they are giving their attention to me. But their words didn’t affect me at all, especially to the point of changing my decision.


Pernahkah anda merasa terdiskriminasi karena penampilan anda? (Have you ever felt discriminated because of your appearance?)

Sampai sekarang sih tidak.

Until now I've never experienced those kinds of things.


Berapa besar kepedulian anda terhadap penampilan? (How much you pay attention to your appearance?)

Tentu ada perhatian khusus. Apalagi di tengah publik saya tidak membawa diri sendiri, ada band yang berdiri di belakang saya. Sebisa mungkin saya juga merepresentasikan mereka​.

Of course, I need to put my attention to it, especially when I have to present myself in front of people, I am not only representing myself, I also represent my band, Tashoora.


Bagaimana cara anda mencintai diri anda? (How do you love your self?)

Dengan membiarkan dia maunya apa tanpa dibatasi apa pun. “Lagi pengen gendut nih”, yasudah gendut saja. “Lagi pengen botak nih,” yasudah botak saja​.

To let my self do whatever it’s willing to do, without any boundaries.





Apa kecantikan menurut pendapat anda? (What is ‘Beauty’ in your opinion?)

Saya selalu percaya cantik itu dari dalam. Lagipula, standar cantik secara fisik pun relatif. Yang pasti cantik secara fisik selalu kalah ketika hatinya masih dipenuhi prasangka. “Percuma cakep kalau mau temenan aja harus tanya dulu agamanya apa.” Beauty is how your heart and mind work towards others​.

I always believe in inner beauty. After all, physical attractiveness is relative, differ for each individual. The most certain thing is the heart which full of negative prejudice overshadowed physical beauty. “What is a beauty if every time someone wants to make a friend with her she always asked ‘what religion are you?’”, that’s probably my analogy. Beauty is how your heart and mind work towards others.


Bagaimana bisa anda menggunakan karir untuk menentang standar kecantikan konvensional? (How do you use your career as a tool to challenge the conventional beauty standard?)

Semakin tinggi exposure yang saya terima, semakin mudah saya bicara ke lebih banyak orang tentang standar kecantikan.  Sesungguhnya bukan hanya soal kecantikan karena di peradaban ini, the way we see some things masih menggunakan cara-cara lama yang usang. Jika kita bisa mulai dari beauty, why not.

The more I get exposed, the easier for me to promote a different kind of beauty standard. In my opinion, beauty is not the main issue, it’s our worn-out perspective especially on how we see things that become the source of the problem. But if we want to start from (conventional standard of) beauty, why not?


Apa tanggapan yang paling berarti yang pernah anda dapatkan tentang bersikap jujur dalam penampilan? (What is the most meaningful response or comment from people that you ever received especially related to the courage of being honest with yourself?)

“Saya ingin punya keberanian seperti yang kamu miliki”, itu yang muncul dari beberapa orang, kena banget di saya. Ini jadi tamparan keras bahwa kita masih dibuai ketakutan - ketidakmampuan yang dibuat-dibuat.

“I wish I have that bravery”, I get that a lot. I translated the word “meaningful” on the question as something that hit me the most, it means that we still live in fears.


Gambaran fisik ideal, khususnya wanita di mata manusia: berbadan tinggi langsing, berkulit putih mulus, berambut lurus dan panjang, serta bertingkah laku anggun. Sebagai seorang perempuan, menurut kamu apa yang menyebabkan gambaran ini masih menjadi kiblat atau standar pencapaian fisik?? (The attributes related to beauty is still stuck in a shallow pond of conventional standard such as tall, slim, milky-white skin, flawless complexion, long straight hair, and behave gracefully. In your opinion as a woman, what makes us still stuck in those kinds of standards?)

Pertama-tama, buat saya label itu jahat. Kalau ada yang cantik, maka ada yang tidak cantik. Lantas apa? Syarat kerja berpenampilan menarik buat saya menyedihkan. Jika dengan gender kita bisa begitu getol bicara kesetaran, kenapa tidak dengan hal-hal sederhana seperti “cantik”. Lagi-lagi media jadi kunci. Dari mulai penerimaan kita terhadap label “cantik” sampai standar-standar yang mengiringi, semua karena informasi yang kita dapat dari media berkata demikian. Ide-ide tersebut tertanam begitu lama, membuat kita terlalu nyaman untuk serta merta menghapuskan standar-standar kecantikan. Selama media masih bicara hal yang sama tentang konsep atau standar kecantikan, rasanya tidak akan banyak perubahan yang terjadi dengan cara pikir kita.

First thing first, for me that kind of labeling is cruel. If there’s beauty, then there’s ugly. And then what?.For example, putting ‘attractive appearance’ as one of the requirements for applying a job is also cruel. We’ve been so vocal fighting for gender equality, why we cannot do the same for something simple as ‘beauty’?. Again, media is the key. Media is one of the tools in shaping people’s mind, media gave a label to certain appearance and call it beauty; with the standards which follows. We become someone who believes that ‘beauty’ is what the media has present. Those ideas have been embedded for so long. It erases the variety of beauties (which actually exist). As long as the media still talking about the same old concept of beauty, I think there will be no changes, in a way, we will still stuck in the same standard of beauty.


Apakah saat ini cara pandang masyarakat tentang daya tarik fisik sudah berevolusi ke arah yang lebih baik? (Do you think our point of view about physical appearance has evolved towards better direction?)

Kita sudah semakin terbuka, ekspresi kita lewat tubuh semakin beragam. Tapi ya itu, kita masih punya standar.

We are more open now. We can ‘utilize’ our bodies to express ourselves. But again, we are still stuck with the word ‘standard’.


Anda berani mendobrak citra “Njawani” perempuan Jawa pada umumnya, apakah ada pesan khusus di balik peran itu? (You are one of the most notable figure who has the guts to break the ‘Njawani’ image of Javanese woman, is there any special message behind that role?)

Tidak ada yang salah dengan menjadi Njawani. Saya memang orang Jawa, tapi menjadi Njawani adalah pilihan. Simply because it’s not my cup of tea, saya tidak memilih cara hidup tersebut. Banyak kok yang enjoy dengan citra Njawani, menghidupinya dengan suka cita dan sepenuh hati. And that’s great​.

Nothing’s wrong in being Njawani. I am Javanese, but being Njawani is a choice. Simply because it’s not my cup of tea I didn’t choose that way of life. There are lots of people who enjoy their Njawani image, and if they like that, then it’s great!


Kebebasan berekspresi untuk perempuan Indonesia masih sering terganjal oleh beberapa hal, diantaranya norma ke Timur-an dan anggapan tabu; “Ora ilok” kalau kata Orang Jawa. Bagaimana cara anda meyakinkan diri sendiri maupun orang lain yang melihat anda bahwa sudah saatnya pandangan tersebut dirubah? (In Indonesia, our freedom of expression often suppressed by norms and taboos, ‘Ora ilok’ as the Javanese use to say. How do you convince yourself or people around you that we need to change?)

Dengan menjaga pesan yang ingin saya sampaikan. Konsisten menyampaikan dengan cara-cara yang mudah diterima.

I have to keep my message delivered and being consistent with it, by using a method that is easy to be accepted by society.





Apa pesan-pesan anda terhadap perempuan yang masih takut mengekspresikan dirinya? (What is your message for women who is still afraid in expressing themselves?)

Tidak perlu takut kalau yakin yang kamu lakukan itu bukan sesuatu yang salah.

Never be afraid if your heart told you what you do is right.


Apa hal terpenting dalam hidup anda? (What is the most important thing in your life?)

Kejujuran.

Honesty.