Blog

23

Aug

2019

PATRICIA RIVAI: MENATA CITRA DAN DAYA TARIK DIRI / ORGANIZING SELF-IMAGE AND ATTRACTIVENESS

Posted by Pita Ratna Sari
PATRICIA RIVAI: MENATA CITRA DAN DAYA TARIK DIRI / ORGANIZING SELF-IMAGE AND ATTRACTIVENESS image

Memberi berbagai anggapan dan tanggapan terhadap sesuatu, seseorang, atau peristiwa merupakan proses transaksional yang tak terelakkan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Terkait penampilan fisik, kesan pertama (first impression) terkadang menjadi penentu. Hal tersebut dikarenakan impresi atau kesan yang dihasilkan, selanjutnya dengan begitu kuat dapat menyeret kita melebur ke dalam kolam persepsi atau anggapan yang lebih luas. Tampilan fisik menjadi penting dalam proses pembentukan kesan pertama. Pepatah lama yang mengatakan “Don’t Judge A Book By Its Cover” nyatanya kerap tak selalu berlaku. 

Tak dapat dipungkiri dalam helatan-helatan tertentu, tuntutan berpenampilan menarik sudah menjadi semacam upaya kebertahanan sosial yang secara tidak langsung dapat menentukan kelangsungan hidup seseorang. Salah satu upaya utama dalam berpenampilan adalah dalam hal tata-busana. Kami berkesempatan mewawancarai Patricia Rivai, seorang penata busana (fashion stylist) yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan fashion e-commerce kenamaan di Indonesia. Dari wawancara ini kami menggali sudut pandang Patricia mengenai mode berbusana dan kaitannya dengan pembentukan impresi, serta permainan citra visual seseorang, juga berbagai nilai-nilai lain yang kiranya dapat mempengaruhi hal tersebut.

(As human beings, we have the tendency to give opinion and response towards someone, something, or events in a matter of seconds. The first impression has become something that is very special because it holds the power to trigger and drag us into wider pool of perception. Physical appearance is important in the process of forming the first impressions. Old proverb says “Don't Judge A Book By Its Cover”, which in fact is not easy as it said. It cannot be denied in lots of events, attractiveness (appearance) have become one of the tools that determine someone's survival. One of the most important methods in processing the attractiveness of physical appearance is by dressing up. We had the opportunity to interview Patricia Rivai, who currently work as a fashion stylist at one of the most thrivings, international chain e-commerce company in Indonesia. The interview highlights the fashionable point of view in the game of processing someone's visual image as well as values that can be obtained behind all the efforts).

Oleh: Pita Ratna Sari

______________________________________



Halo Patricia, apakah profesi fashion stylist sesuai dengan passion dalam diri anda? (Hello Patricia, why fashion stylist?)

Saya suka mempadu-padankan baju, saya juga suka sekali berbelanja tentunya! Selain itu, saya suka apabila bisa me-mix and match baju menjadi lebih menarik. Saya sudah bekerja dibidang ini sejak tahun 2005. Saya sempat bekerja untuk berbagai media seperti Whatzup dan NYLON Indonesia. Selain itu saya juga pernah memiliki butik sendiri.

I love mix and match the clothes, I love shopping (of course), and I love the feeling when I managed to make the clothes looks good. I’ve been in this industry since 2005. I’ve worked for several medias such as Whatzup and NYLON Indonesia. I used to have my own boutique also.


Sebutkan 5 kata yang dapat mendeskripsikan diri anda! (Mention five words that describe you)

Pendiam, pemalu, lucu (apabila saya nyaman dengan lawan bicara saya), tekun, dan dapat diandalkan.

Reserved, shy, witty (if I’m comfortable), determined, and reliable.


Seberapa besar anda mencintai fashion styling? (How much do you love fashion styling?)

Fashion styling adalah hobi saya yang amat saya cintai selama bertahun-tahun.

Fashion styling is my hobby that I loved dearly for years.


Apakah melalui fashion styling anda dapat menemukan hal-hal baru yang lebih berharga? (Are there any precious new things that you found during fashion styling process?)

Tentu, apalagi ketika saya masih bekerja di media, networking saya semakin luas dan banyak pengalaman seru seperti ketika saya diundang oleh suatu brand. Menghadiri fashion week di luar negeri juga merupakan pengalaman yang sangat mengesankan.

Of course! When I was working for media, my networking was getting better and there were so many experiences especially when I was invited by brands and attending international fashion week.


Sebagai fashion stylist yang notabene berdekatan dengan upaya-upaya mengolah atraktivitas fisik/penampilan (physical attractiveness) seseorang/kelompok, apakah sebetulnya ada standar/patokan-patokan baku untuk mengatur atraktivitas/daya tarik penampilan tersebut? (As fashion stylist who worked to make someone looked physically attractive, is there any standard to organize someone’s attractiveness?)

Temukan gaya personal dia!

Find his/her persona!


Prinsip-prinsip apa yang anda gunakan dalam upaya styling tersebut? (Do you have any principles in styling?)

Bagaimana cara membuat sesuatu terlihat lebih dramatis.

How to make items or looks more dramatic.


Menurut anda apakah upaya styling dapat membuat seseorang lebih cantik/menarik? Apakah ada nilai lain selain itu? (Do you think fashion styling helps someone to look more attractive? Is there any other value beside “looking attractive”?)

Ada, dia harus mempunyai rasa percaya diri dan rasa nyaman dengan penampilan dirinya sendiri.

Yes, but beside that they need to have confidence and feel comfortable with their own selves.


Anda memiliki gaya yang bisa dibilang unik, beda daripada yang lain, cutting edge dan cukup particular, apakah anda memiliki idealisme atau nilai-nilai tersendiri yang ingin anda suarakan atau tunjukan dalam representasi gaya tersebut? (You have a very unique cutting edge and particular style. Do you have any idealism or value you would like to present to the society?)

Tidak ada. Just love the quirky stuff juga mix and match.

No. I just love the quirky stuff also mix and match.


Anda cukup terlihat jarang menampilkan citra foto (Instagram) yang tersenyum lepas, cenderung fierce bahkan terkesan vicious, adakah citra khusus yang ingin dibangun di balik image tersebut?? (Your pictures on your Instagram almost never shows hearty smile, tend to look fierce or almost vicious. Is there any certain image you would like to built?)

Tidak ada, karena saya itu sebenarnya seorang pemalu, suka tidak terlalu percaya diri kalau di foto dengan senyum yang lepas. Kadang pengen bisa kayak gitu, tapi suka jadi terlihat aneh HEHE.

No. I am actually a shy and reserved kind of person, it never felt right when I took or saw pictures of me which shows hearty smiles. I do really want to be photographed while I am smiling warmly, I’ve tried, but I always end up looking weird HAHA.




Apa saja objek-objek fisik yang sebenarnya sengaja anda bangun untuk membentuk kesatuan citra diri anda? (Is there any physical attractiveness that you show intentionally to built your image?)

Tidak ada.

No.


Apa yang anda harap dapat terbangun dalam benak masyarakat/sosial ketika melihat penampilan anda? (What do you expect from people when they saw your style?)

Saya bisa menjadi inspirasi dalam cara mereka berpenampilan.

I can inspire them on how to style themselves.


Apakah anda pernah merasa takut dengan judgement sosial terhadap penampilan fisik anda? (Do you ever feel afraid of social judgment about your appearance?)

Tidak.

No.


Upaya mendiskriminasi penampilan fisik masih merajalela di kehidupan sosial kita sehari-hari. Menurut anda apakah itu kecantikan? (What is a beauty to you?)

Menurut saya, hal pertama yang kita lihat ketika bertemu seseorang, tidak lain dan tidak bukan, biasanya berhubungan dengan fisik.

It’s basically something that you’ll see first when you meet someone, (always) something physical in common.


Citra kecantikan (khususnya perempuan) atau penampilan fisik yang terbentuk selama ini berkutat pada nilai-nilai visual yang bisa dibilang medioker, let say citra putih, bening, halus, enak dilihat, melakukan hal positif dan lain sebagainya, Apakah anda pernah berupaya (melalui fashion styling) untuk menggeser nilai-nilai visual tersebut? (Beauty, especially for women always be about mediocre visual values such as smooth milky-white skin, visually pleasing appearance, etc. Do you ever try to break the standard by shifting those norms?)

Saya membuat model saya terlihat memiliki karakter yang berbeda dan spesial dengan menunjukkan suatu ‘attitude’ kasat mata yang terlihat keren.

I tried to style my model(s) with my own special ways so that they could show different vibes. Showing intangible attitude that looks cool!


Apakah nilai-nilai visual yang lebih extraordinary, misalnya trend-trend yang mengadaptasi kultur-kultur kesukuan/tribe, pagan, post-apocalypse, futuristik, peculiar/ugly looks sebetulnya punya potensi untuk memberi warna baru dalam memperluas representasi penampilan fisik? (Are extraordinary visual values such as tribe’s cultures, pagan, post-apocalypse, futuristic, and peculiar ugly looks have potential to be adapted in fashion styling as an alternative to represent new category in appearance?)

Tidak bisa di aplikasikan ke semua orang, kembali lagi apakah dia memiliki karakter dari  kultur-kultur tersebut atau apakah dia merasa nyaman dengan kultur tersebut.

When it comes to those mentioned above, for me it’s a no. Not everybody has the character and comfort to adapt those cultures. The vibe just won’t show.


Setiap orang memiliki keunikan/ciri khas masing-masing. Bagaimana anda menanggapi pernyataan tersebut? (Every single person has their own character, how do you deal with that?)

Betul, ciri khas membuat setiap orang terlihat lebih menarik. Ciri khas / unik seseorang itu tidak harus fisik, bisa apa saja, sesuatu yang menarik yang ada atau keluar dari diri setiap orang.

So true, for me personally, every single person need to find their own character, something that makes them looks attractive, it’s not always about physical appearance, it could be anything. Something which comes from the inside and sincere.


Menurut anda apakah itu identitas? (What is identity?)

Ciri khas yang berbeda-beda di setiap individu dan yang membuat seseorang menjadi spesial.

Something that differs for each individual. Something that makes them special.


Menurut anda apakah self-trademark itu penting? (Do you think self-trademark is important??)

Iya.

Of course.




Apakah menurut anda self-imperfection dan flaw secara fisik yang dimiliki seseorang dapat menganggu proses styling anda, misalnya marks, scars, keloid, dan lain-lain? (Has physical imperfections and flaws such as scars, colloids, (stretch)marks, etc. affecting your styling process?)

Tergantung dari keperluan, maksudnya dengan brand apa saya bekerjasama, tema apa yang akan diangkat. Tapi di luar itu, secara keseluruhan tidak mengganggu.

It is always different for each cases. Depends on what brand/company I am working for, what is the theme of the photo or video shoot, etc. Beside that, so far, I’ve never felt obstructed.


Apakah anda akan lebih mudah melakukan proses styling terhadap orang-orang/model yang notabene secara fisik menarik? (Do you think it will be much more easier to style someone who is naturally born attractive?)

Tidak selalu. Banyak juga model yang susah untuk di styling karena tidak memiliki karakter. Apabila boleh memilih, saya lebih baik melakukan styling kepada model yang memiliki karakter daripada harus melakukan proses styling pada model yang hanya bermodalkan ketampanan dan kecantikan, atau mungkin malah hanya memiliki badan yang kurus dan dianggap menarik oleh media selama ini.

It is not always like that. There are lots of attractive (beautiful and handsome) models who were difficult to be styled because they didn’t have “that” character. I prefer someone who got the “character” rather than someone who is just pretty or handsome or skinny and good looking.


Apakah menurut anda motif serbet kotak-kotak khas dapur dalam negeri berpotensial untuk menjadi embodiment suatu brand fashion, seperti Burberry misalnya? (Do you think the Indonesian particular kitchen tools (plaid-pattern napkin) has the potential to become an embodiment of a fashion brand, like Burberry for example?

Tentu saja. Kenapa tidak?

Sure, why not?


Daster kembang ibu-ibu kan semacam undying item for decades, bahkan sudah menjadi suatu identitas, bagaiamana tanggapan anda terhadap hal ini? (A “mother’s favorite” pajama dress with flowers patterns is like an undying item for decades, even it has turned into an identity, what do you think about this?)

Ibu-ibu silahkan bertahan dengan motif tersebut; tapi bunga-bunga kebetulan bukan motif favorit saya.

Please stick to that. But unfortunately, flower is not my thing.




Bagaimana kamu ingin dipandang oleh orang-orang? (What do you want the society to portray you?)

Seseorang yang baik; tidak seperti wajah saya yang sering terlihat muram. Dan juga seseorang dengan fashion yang keren!

Someone who is nice, unlike my face whick often looked vicious, and someone who fashionably cool.