About Us

About Us



Sandara Jiwa diawali oleh kepedulian terhadap tingginya pendambaan atau keinginan masyarakat Indonesia dalam memiliki kulit yang lebih putih (fairer skin). Hal ini tidak terlepas dari pengaruh media, industri kosmetik/kecantikan, dan periklanan yakni melalui upaya pencitraan (image), yang kerap memborbardir publik dengan sosok-sosok (kerap kali wajah Kaukasian, atau wajah Asia Timur) berkulit putih, rambut lurus, langsing, bercahaya, karena dianggap memiliki kualitas kombinasi visual yang baik (bentuk, warna, dan bentuk) dalam menyenangkan indera estetika, khususnya penglihatan (sight).

Rasa ketidakpercayaan diri, rasa tidak aman dan nyaman, rasa malu, bahkan depresi tidak dipungkiri dapat muncul ketika seseorang berkenaan dengan hal-hal fisik yang dianggap kurang/tidak menarik (unattractiveness /ugliness). Buruknya, unattractiveness/ugliness tersebut berkembang menjadi stigma yang hidup di kehidupan sosial dan seringkali menjadi alat diskriminasi fisik bahkan penerimaan sosial. Beberapa sumber mengatakan bahwa keadaan kulit yang lebih gelap dan wajah yang penuh jerawat merupakan keadaan yang tidak diinginkan (undesirable) yang sangat dihindari, beberapa lainnya mengatakan setiap hari bersolek karena takut disebut "jelek" atau tidak menarik oleh kaum laki-laki.

Hal tersebut kemudian ditanggapi sebagai sebuah permasalahan terhadap penerimaan diri (self-acceptance) yakni diri sebagai kesatuan anugerah yang fungsinya menyeluruh/holistik, serta penyempitan spektrum atau cara pandang masyarakat terhadap keragaman (diversity) aspek-aspek kecantikan/kemenarikan fisik (physical attractiveness).

Sandara Jiwa lahir atas kepedulian untuk selanjutnya kita bersama-sama lebih dalam mendedah nilai-nilai kecantikan yang nyatanya bervariasi dari satu budaya ke budaya lain, yang juga berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu, menelusuri keragaman dan terlepas dari persoalan menarik secara fisik (physically attractive) atau tidak menarik secara fisik (physically unattractive).

La Via Purgativa adalah proses pemurnian dan pembersihan diri, suatu prinsip yang ditetapkan kami sebagai tujuan akhir dari segala bentuk pemeliharaan tubuh/fisik. Keadaan "Purgativa" yang disimbolkan dengan ular menggambarkan suatu keadaan murni (detoxified), setelah mengalami struggle terhadap gejolak-gejolak tubuh/fisik, dalam hal ini direpresentasikan sebagai perjuangan masing-masing individu terhadap pemeliharaan dan penerimaan dirinya.

Jargon "Saya Berani Karena Bareface" lantas dikumandangkan sama sekali bukan untuk secara gamblang membatasi seseorang/kelompok dalam melakukan upaya bersolek, atau menggunakan kosmetik/make-up, namun lebih direpresentasi untuk mewakili keberanian dan sikap seseorang dalam menerima/memahami fisik baik masing-masing maupun sesama secara positif dan apa adanya. Hal ini tentu bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, namun bukan berarti kita tidak mampu memulai dan membangun.


(Ilustrasi oleh Nita Darsono, @nitchii)

Salam,
Sandara Jiwa.